Blogger templates

Menulis Untuk Peradaban

Blogger news

Blogroll

About

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

About me

Ibu Rumah Tangga, Dosen, Pebisnis online, Blogger, Konsultan IndScript dan Anggota Institut Ibu profesional

Pages

Flickr Images

BTemplates.com

Jumat, 11 November 2016
RESUME DISKUSI🎀
“30 Menit Lebih Dekat”
WAG MIP #2 BCCG
Minggu, 30 Oktober 2016
Pukul 20.00 s.d 20.30 WIB
Guru Tamu: Ibu Septi Peni Wulandani
Resume 30 Menit Lebih Dekat
MIP Batch #2 BCCG
Minggu, 6 November 2016
Pukul 20.30 s.d 21.00
Guru Tamu: Dodik Mariyanto
Jumat, 04 November 2016


Nice Homework#3  ini saya ngedadak jadi romantis. Sebelumya tidak. hehe..
Gimana tidak romantis coba, salah satu tugasnya adalah bikin surat cinta untuk suami kemudian melihat bagaimana responnya. Berikut ini pertanyaan yang pertama lengkapnya.

Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadian anda memiliki “alasan  kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihat bagaimana responnya.
Kamis, 03 November 2016
📝CHECKLIST PEREMPUAN PROFESIONAL📝
Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan "rasa" berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah yang mengatakan "Ojo kalah karo wegah" (Jangan mau kalah dengan rasa malas). Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.
Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.
KOMITMEN DAN KONSISTEN
Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.
Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun “DEEP HABIT” yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.
Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas “Shallow Work”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.
Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam “shallow activities”, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.
Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu, meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, Sehinga bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori “SHALLOW WORK” menjadi “DEEP WORK” (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).
Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :
🍀1.Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat "akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah" akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.
🍀2.Apakah kalimat-kalimat di checklist sudah terukur? misal "Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga", akan lebih baik kalau diganti dengan " Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga"
🍀3.Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.
Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.
Kembali ke istilah jawa ini namanya "gayuk...gayuk tuna" (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)
🍀4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.
🍀5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai November 2016.
Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya.
Silakan teman-teman lihat kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.
Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari.
Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.
Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
Sumber Bacaan :
Deep Work, Cal Newport, E book, akses 30 Oktober 2016.
Materi “MENJADI IBU PROFESIONAL” program Matrikulasi IIP, batch #2, 2016
Hasil Nice Home Work #2, peserta program Matrikulasi IIP batch #2, 2016
📚MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 📚
Bunda, setelah kita belajar tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.
🙋Pra Nikah
a. Bagi anda yang sedang memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang baik, tulislah suara hati anda dengan tema “UNTUKMU CALON IMAMKU”
b. Lihatlah diri anda, tuliskan kekuatan potensi yang ada pada diri anda.
c. Lihatlah orangtua dan keluarga anda. Silakan belajar membaca kehendakNya, mengapa anda dilahirkan di tengah-tengah keluarga anda saat ini dengan bekal/senjata potensi diri anda. Misi rahasia hidup apa yang DIA titipkan ke diri kita. Tulis apa yang anda rasakan selama ini.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda?adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa anda dihadirkan di lingkungan ini?
👨‍👩‍👦‍👦Nikah
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.
a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian
tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
👩‍👧‍👧Orangtua Tunggal (Single Parent)
Bagi anda yang saat ini sedang mendidik anak-anak anda sendirian tanpa kehadiran pasangan hidup kita
a. Buatlah “Tanda Penghormatan’, dengan satu dua kalimat tentang sisi baik “ayah dari anak-anak kita” sehingga dia layak dipilih Allah menjadi ayah bagi anak kita, meskipun saat ini kita tidak lagi bersamanya.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak anda, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasiaNya sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yg kita miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.
Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.
Salam Ibu Profesional
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
🌸 Setor di Kolom Komentar 🌸

Foto Dzikra I. Ulya.


Nurrita Dewi Nhw yg ini tambah swsuatu
Harus merenung
Deasy Mariani
Resume Diskusi
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #3
MEMBANGUN PERDABAN DARI DALAM RUMAH
Tanggal : 1 Nopember 2016
Waktu : Pkl. 19.30 - 20.30 WIB
Fasilitator : Ibu Dzikra Ihdaiyatul 'Ulya (Ibu Chika), Ibu Maria Ulfah (Ibu Ulfah) Ibu Rizki Fajriyani Jurnaliska (Ibu Rizqie)
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
1. Ibu Asti Susanti - Rangkasbitung
Saat ini saya sudah menemukan potensi yg dimiliki saya dan suami. Saya pun sadar dengan keunikan keluarga saya. Saya sedang terus menerus memberikan pengalaman yg berharga untuk anak saya sebagai ikhtiar menemani fitrah belajarnya. Namun, saya dan suami masih belum bisa menerima lingkungan sekitar yang menurut kami bertolak belakang dengan pendidikan di keluarga kecil kami. Misalnya, saya mengajari anak untuk bilang baik2 saat menginginkan sesuatu. Tetapi ada anak tetangga yang selalu merengek dan berteriak saat minta sesuatu. Anak saya yang masih 3 tahun malah mengikuti temannya. Bagaimana agar bisa berdamai dengan lingkungan sekitar?
Menurut saya anak usia 3th tidak usah terlalu banyak berinteraksi dengan anak tetangga yang didikannya tidak bagus. Perbanyak interaksi dengan kita saja sbg orang tuanya. Sesekali main dgn anak tsb tentu boleh tapi sambil didampingi. Hanya saja tidak terus menerus. Krn anak belum bisa memfilter itu.
2. Ibu Rahma - Serang
Bagaimana caranya agar kita benar2 ikhlas berdamai dgn masa lalu, dgn orang yg berulang kali meninggalkan luka di hati kita. Sudah berusaha tidak ambil pusing, bersikap baik terhadap orang bersangkutan, bahkan berusaha "merangkul", tapi setiap ingat hal2 yg pernah diperbuatnya kpd kita,luka itu muncul lagi dan saya seringkali menjadi buruk sangka terhadap nya. Jika ini tdk segera diselesaikan, saya khawatir akan melakukan hal yg sama kepada anak2 / lingkungan saya nantinya, dan saya tdk mau seperti itu.
Terima Kasih
Jika luka itu cukup dalam, bahkan memicu ketidak stabilan emosi hingga traumatis, maka diperlukan penanganan khusus. Diperlukan adanya latihan untuk menangani inner child dan luka traumatis. Perlu ada pendampingan profesional agar benar-benar sembuh.
Namun untuk langkah awal adalah dengan metode quantum ikhlas:
- Tuliskan segala kekesalan ketidakpuasan, sedih amarah dsb.
- Tuliskan mengapa Bunda seperti itu, Apa dampaknya pada diri, keluarga dan kehidupan Bunda.
- Lalu Tuliskan apa yang Bunda inginkan, dan apa yang Bunda anggap "ideal"
- Istighfar, dan tuliskan bahwa anda ikhlas dengan segala kondisi saat ini dan berkomitmen untuk berubah.
Setelah itu, fokus pada NHW#2.
Wallahu 'alam Semoga Dibukakan jalannya yaa...
3. Ibu Heni - Majalengka
Assalamualaikum.wrwb. Kita tau bahwa tujuan berumah tangga selain untuk melanjutkan keturunan dan menggenapkan separuh dien. Juga Ada lagi tujuan lain yaitu membangun peradaban dari dalam rumah. Seperti tema yg ada di sesi 3 ini. Yg ingin saya tanyakan bagaimana kalo kondisi pekerjaan suami di luar kota dan kadang harus berpindah-pindah kota. Dan terpaksa harus menjalani LDR. Misal hanya 2 minggu sekali pulang. Jadi otomatis peran istri lebih dominan di rumah. Nah bagaimana agar suami istri bisa bersinergi tetap bisa mewujudkan misi atau tujuan tersebut? terimakasih.
Idealnya suami istri tidak LDR Tetapi Jika memang kondisi terpaksa demikian, gunakan teknologi komunikasi dengan maksimal agar tetap terjalin komunikasi yg lancar. Saat ini ada fasilitas Line dst. Meski ini tidak ideal tetapi minimal msh lebih baik.
4. Ibu Novita - Serang
Banyak kejadian dimasa lalu sebelum menikah yang belum aq selesaikan dan bahkan blm bisa aq maafkan.
Berpengaruh sebesar apa terhadap cara kita mendidik anak?
Sangat berpengaruh. Karena itu mengendap dalam alam bawah sadar.
Ketika seorang wanita (berlaku juga bagi pria) mendapatkan pengabaian dan perlakuan2 yang membuat trauma di masa kecilnya dari orang tua atau pengasuh lainnya, ia menjalani kehidupan dengan pondasi yang lemah. Ia akan membawa perasaan tidak berdaya, perasaan sebagai korban, depresi, rasa malu beracun, kritik diri negatif, kepercayaan diri yang rendah, harga diri yang rendah, dan tidak punya keterampilan mengasuh dirinya sendiri.
Dengan pondasi yang lemah ini, bisa mengakibatkan wanita tidak mampu mencintai dirinya sendiri dalam perannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak2.
Jika mencintai, meyayangi atau memaafkan diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana pada anak/pasangan/orang lain?
5. Ibu Marini - Serang
Assalamu'alaikum, mau tanya Bun gimana bisa membangun peradaban dari dalam rumah klo kita masih tinggal satu atap dengan mertua dimana pola asuh yg kita ingin kan tidak selaras, berhubung suami anak laki2 paling tua.
Husnudzhon, bahwa Nenek anak-anak pasti menginginkan yang terbaik juga untuk anak-anak kita. Bicara dari hati ke.hati dan fokus pada 1 perubahan.
Misalnya ingin anak bangun subuh dan shalat berjamaah, padahal seumpanya anak balita bangun agak siang, Kita.bisa "agak" santai melakukan aktivitas pagi. Maka paparkan alasannya secara logis menggunakan referensi yang tepat, jadi seperti sharing, bukan menggurui. Lalu buat komitmen, seandainya anak rewel di pagi hari, pekerjaan RT bagaimana, persiapan pagi hari bagaimana, dsb.
Fokus pada 1 kebiasaan dulu.
6. Ibu Tyas - Serang
'Perlu satu kampung untuk mendidik satu orang anak'
Pernyataan dia atas berarti kita butuh lingkungan rumah utk sama2 belajar. Bagaimana cara mengajak mereka untuk sama2 belajar?? Dengan latar belakang pendidikan dan budaya yg berbeda2 kadang mereka sudah anti duluan. Dikasih masukan sedikit bisa marah atau ga terima.
Ajak anak-anak tetangga untuk main di rumah, lalu kita dampingi dan awasi. Mulai dari mengambil hati anak-anak tetangga dulu, ajak mereka bermain atau membuat project bersama. Selama interaksi tersebut, kita bisa mengorek hal negatif dan memberitahu mereka bagaimana seharusnya.
Saya aktif sebagai relawan perpustakaan gratis. Anak-anaknya beragam, ada yg suka berkata kasar, bahkan terpapar konten pornografi. Namun anak saya ada di sana dg adanya bimbingan dan.pengawasan. Dampaknya, sekarang anak-anak di sana mulai membaca apa yang anak saya baca. Dan mereka ketagihan untuk beraktivitas bersama saya dan relawan lainnya.
7. Ibu Vina M - Serang
Pertanyaan saya bunda... bagaimana menguatkan hati untuk membangun peradaban dr dalam rumah dengan kondisi memiliki suami namun cuek menyerahkan sepenuhnya pada istri. Karena rasanya sy tidak mungkin menuntut terlalu jauh kpd suami jika komunikasi dengan suami sudah intens dilakukan namun suami saya ini pasif sekali..saya bingung terkadang merasa lelah..apa yg harus dilakukan.
▶ ada beberapa kemungkinan suami ibu bersikap seperti itu.
1. Krn suami ibu bertipe introvet, atau
2. Krn pola asuh yang suami terima dahulu dari orang tuanya, atau
3. Krn gaya komunikasi yang beliau pakai lbh banyak menggunakan komunikasi nonverbal dst.
Tetaplah fokus pada kelebihan dan kebaikan suami.
Adapun untuk kebutuhan ibu, maka tetaplah mencurahkan perasaan dan pikiran ibu pada suami, tanpa memasang target terlalu tinggi akan respon yg ibu dapatkan dari beliau. Yang penting tersalurkan dulu kebutuhan ibu untuk bicara. Karena wanita lebih butuh banyak bicara
8. Ibu Lusi - Pandeglang
A. Saya punya banyak rencana untuk mendidik anak dg fitrah keimanan. Tapi ketika suami kurang antusias jika diajak berdiskusi seperti apa pola didik yang akan diterapkan pada anak dan tahapan apa yang harus dilakukan untuk mendidik anak dengan fitrah keimanan, bahkan terkadang apa yang sudah coba diterapkan pada anak, menjadi mentah kembali karena pola suami yg berbeda, bagaimana seharusnya menyikapi ini?
* Jawab: Bu Lusi, upayakan membenahi komunikasi dulu dgn suami. Ada tipe suami yg Konseptor, maka istrinya harus bisa menerjemahkan konsepnya sampai detail praktis pengaturan dirumah.
Sebaliknya ada tipe suami yg Praktisi n detail pada tindakan, maka istrinya harus menjadi konseptor. Cermati suami ibu termasuk yg mana, kemudian sepakati masing2 pihak mau mengambil peran yg bagaimana.
Jika komunikasi n pembagian peran sdh dilakukan, tapi tetap belum berhasil. Maka tetap konsistenlah bu lusi dgn rencana n niat baik semula krn banyak ibu2 yg berhasil mendidik n mengasuh anaknya "sendirian".
Jangan lupa mendoakan suami n anak ya bu, smoga hati suami bu lusi terketuk krn melihat kesungguhan bu lusi dlm mendidik anak.
B. Saya tinggal di perkampungan dengan tetangga di sekitar menerapkan pola didik yang keras pada anak2 mereka. Kekerasan fisik dan bahasa-bahasa yg kasar, juga nuansa keislaman yg kurang, sehingga melahirkan anak2 menjadi pribadi yg suka kekerasan fisik, bahasa kasar dan bahkan ada yg masih di bawah umur melakukan penyimpangan seksual.
Jika kondisi lingkungan seperti ini, apa yg harus saya kuatkan dan lakukan agar saya bisa menjaga anak dari kontaminasi akhlak? Padahal seperti yg disebutkan "it takes a village to raise a child".
Jawab: it takes a village to raise a child, maksudnya carilah komunitas yg sevisi utk membantu mendidik n mengasuh anak2 dgn bersama2. Sehingga akan terbentuk komunitas yg berbasis nilai pendidikan n pengasuhan yg baik. Istilahnya Community Based Education.
Menurut Sarra Risman, kita boleh membatasi pergaulan anak kita dari lingkungan sekitar yg buruk, apalagi anak dibawah 12 tahun yg masih pada tahap penanaman nilai. Nilai kehidupan dari keluarga sdh bagus, tapi terkontaminasi nilai buruk dari luar rumah. Akibatnya akan mempengaruhi anak, jadi sebaiknya batasi pergaulan anak.
9. Ibu Fitriyani Ginawati - Sukabumi
Bagaimana langkah yg harus diambil jika kita sudah menemukan pola mendidik anak kita, namun belum menemukan/ belum ada komunitas d sekitar yang sesuai dengan visi misi kita. Apakah anak kita masukkan ke sistem pendidikan yg sudah ada ( notebene tidak sejalan dengan visi misi kita) sambil kita jalankan metode kita atau kita bergerak/berjalan sendiri saja?
* Jawab: bu Fitriyani, tanggung jawab pendidikan & pengasuhan anak yg Utama itu tetap pada orang tuanya. Baik dia di sekolah formal yg "baik & berkualitas" menurut kita, atau sekolah biasa2 sj atau memilih utk Home Schooling prinsipnya tetap orang tua sbg pendidik utama di rumah, konsep ini disebut Home Education (HE).
Didik n asuhlah anak dirumah dgn nilai2 kehidupan yg baik yg dianut di keluarga sambil mencari orangtua2 lain yg mempunyai visi pendidikan yg baik yg sesuai dgn ayah bunda kemudian bersinergi dlm komunitas tsb utk mendidik anak, salah satunya IIP ini atau grup HEbat.
Jazakillah ibu2 fasil atas jawaban dari pertanyaan saya diatas..
Namun ada yg ingin sya tanyakan dari jwaban yg lain;
Selama ini saya merasa ada di posisi konseptor u/ perncanaan pola mendidik& mengasuh anak, dan suami di posisi teknisi. Bagaimana pola keseharian yg harus djalankan, sedangkan suami lebih bnyak waktu di luar?
Karena ibu yang lebih banyak menemani anak di rumah, otomatis tidak cukup peran ibu menjadi konseptor saja. Asah kemampuan ibu dalam ranah teknis. Berkolaborasilah dengan suami. Rumuskan bersama.
10. Ibu Nurrita Dewi - Serang
A. Sebagai orang yang telab berkeluarga, saya punya luka masa lalu dimana saya terlahir dari keluarga broken home. Ortu saya bercerai ketika umur saya 1 tahun. Stlh itu saya tnggal dgn kakek nenek
Akibatnya hingga saat ini, entah knp saya jadi susah dekat dgn kedua ortu, baik mamah maupun bapak. Mereka kini sudah memiliki keluarga masing2. Dari pengalaman itu saya bertekad untuk tidak akan mengulang kesalahan ortu terhadap saya, karena betapa tidak enaknya jadi anak broken home. Apakah tekad saya tersebut msuk dalam katagori luka masa lalu? Gimana ya biar bisa mmbuka hati agar bisa dekat dgn ortu, rasanya sulit sekali
*Jawab: bu Nurrita, luka masalalu ini telah menjadi trauma ya bu. Padahal utk menjalani masa depan, kita perlu memaafkan masa lalu n membuangnya.
Kalo di konsep HE, memakai istilah Tazkiyatun Nafsi atau penyucian jiwa, caranya dengan memohon ampunan atas dosa kita, ayah n ibu kita, menerima kondisi kita sbg anak broken home, ayah & ibu yg bercerai dahulu, kemudian memaafkan kesalahan mereka n berjanji utk bersikap yg baik kpd mereka, krn lantaran keberadaan merekalah kita ditakdirkan hadir dimuka bumi ini.
Dengan maaf n penerimaan maka hati akan lapang menjalin hubungan baik dgn ayah n ibu.
Sungguh tidak ada yg sia2 dari penciptaan kita dimuka bumi ini, Pasti Allah telah menyiapkan Peran Spesifik bagi kita yg sesuai dgn jalan hidup yg kita lalui.
B. Terkait komunitas, gimana bila tmpat tnggal msh blum ttap (pindah2 karena masih ngontrak), cara mmbangun jejaringnya hrus gimana?
* Jawab: Di era yg serba canggih ini bu, mencari info apapun bisa didapat dengan mudah.
Ingin bertemu dgn orang2 n komunitas2 yg sevisi pasti mudah, asalkan kita melek teknologi, menjalin komunikasi dgn Adab yg baik serta mau men Sahabatkan diri. Pasti akan diterima dimanapun kita berada. Buktinya bu nurrita stelah pindah dari Jakarta ke Serang, tetap ketemu kan dgn IIP & HEbat Banten😉
11. Ibu Rima - Cianjur
Makna membangun peradaban itu seperti apa? apa yg menjadi tolak ukurnya?
Bagaimana sebuah keluarga bisa dikatakan sudah berhasil atau tidaknya menemukan peran spesifiknya di muka bumi ini? faktor-faktor apa saja yang menjadi tolak ukurnya? apakah dilihat dari seberapa besar kebermanfaatan keluarga tsb bagi masyarakat? atau ada poin-poin penilaian yg lain?
* Jawab: Bu Rima, makna membangun peradaban dari dalam rumah maksudnya kita memberikan peran & kemanfaatan bagi masyarakat skitar kita dgn peran yg kita lakukan & sesuai dgn potensi & keunikan yg kita miliki.
Sebuah keluarga dikatakan telah menemukan peran spesifiknya jika sudah menemukan potensi & kekhasan nya serta punya komitmen utk berbagi kpd orang2 di sekitarnya.
Contoh: keluarga Halilintar, dgn Gen Halilintar nya, punya ciri nilai traveling, kebersamaan & berbagi.
Keluarga pak dodik mariyanto n bu septi, dgn Padepokan Margosari & IIP, punya ciri sbg educator, fasilitator & berbagi.
Kalo di Serang, ada keluarga pak Gola gong & bu Tias Tatanka dgn "Rumah Dunia" nya dgn ciri berbagi & membangun Literasi.
Temukan keunikan masing2 keluarga, kembangkan potensinya & bersemangat utk membagikan kebaikan yg kita punya.
12. Ibu Siti Mutoharoh - Serang
Kira-kira jika diantara suami istri masih ada rasa canggung bertanya atau mengobrol dan tidak saling terbuka mulai dari kisah masa lalu sampai dengan saat ini, bisa berbahaya kah untuk kedepannya? Walaupun rasa saling percaya yang kuat antar pasangan?
Tentu saja berpengaruh, kalau memang saling percaya, kenapa masih canggung. Berarti komunikasinya belum terbuka sepenuhnya. Nanti akan dibahas.lagi di sesi kuliah komunikasi produktif.
13. Ibu Ika Mustaqiroh -
Bagaimana caranya agar bisa mengajak suami tertarik mendalami dunia parenting. Sejauh ini, kelihatannya dia cuek saja. Tidak sekhawatir istri nya takut gagal mendidik, mencari Info sebanyak-banyaknya ttg dunia anak. Apakah ini hal yang wajar?
* Jawab: bu ika pertanyaannya hampir sama dgn pertanyaan dari bu Vina & bu Lusi ya.
Saran sy, bangun komunikasi dgn suami. Amati suami ibu termasuk tipe konseptor atau praktisi, bu ika yg menyesuaikan perannya.
Ajak suami utk berperan sesuai keinginannya sehingga dia bisa legowo berperan dlm mendidik anak.
Oh iya, biasanya bapak2 saat sudah dirumah cenderung pendiam krn sdh menghabiskan jatah 7000 kata nya diluar rumah, ditempat kerja, dsb.
Jadi bukan berarti suami bu ika nggak care ya, tapi mempercayakan penuh pendidikan anaknya pada bu ika. Jadi jalin komunikasi dgn baik, kalo beliau lebih nyaman jadi konseptor, maka bu ika jadi praktisi pendidikan n pengasuhan dirumah.
14. Ibu Alin Rosalina - Majalengka
Bu bagaimana cara mengatur waktu kita supaya kita semaksimal mungkin memegang peran sebagai ummun warobbatul bait dengan bisnis rumahan?
Ukuran sukses dlm Islam dlm menjalankn peran sebagai ummun warobbatul bait seperti apa?mohon penjelasan nya
▶ Ibu alin terus terang saya tidak menjalankan bisnis rumahan seperti yang ibu tanyakan. Tetapi saya pernah mendengar dari ibu septi bahwa pekerjaan yg dijalani oleh kita di rumah sebisa mungkin melibatkan pula anak-anak. Misal kita punya passion dalam memasak, lalu membuka bisnis katering. Maka libatkan anak utk ikut berperan serta dalam bidang tsb sehingga anak ikut belajar seusia porsinya.
Ukuran sukses dalam menjalankan peran sebagai ummun warabbatul bait adalah ketika kita tidak berhenti berproses dalam belajar dan meningkatkan kapasitas sebagai ibu. Menjaga amanah anak yang dipercayakan pada rahim kita dengan sebaik-baiknya sehingga anak-anak kita di masa depannya siap menjadi Khalifah di muka bumi ini.
15. Ibu Sri Prihatiningsih - Majalengka
Assalaamu'alaikum...
Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan
A. Sehubungan dengan luka masa lalu yg benar2 mempengaruhi sikap dalam memperlakukan pasangan, bagaimana Sikap pasangannya bila yang punya luka masa lalu ini tidak mau atau tidak sanggup berubah (karena sudah terlalu lama menjadi karakter)
Harus dipecah dulu kebekuannya, perbaiki komunikasi, dan menjalin kembali intimacy. Jika komunikasi tidak terbuka juga, coba untuk berkonsultasi dan melakukan terapi.
B. Bila ketidakharmonisan ikatan ayah dan ibu ini kemudian membuat ibu tertekan dan tidak nyaman menjalani hidupnya, Sebenarnya,mana yang lebih baik untuk perkembangan anak, ibu yang tetap bertahan hidup dalam ketertekanan Atau melepaskan diri dan berusaha menjadi single parent...?
Yang terbaik adalah Seluruh anggota keluarga membuka hati dan komunikasi. Bunda sebaiknya segera berkonsultasi dengan pakar trauma/inner child untuk mengatasinya.
16. Ibu Anis - Garut
Bagaimana hubungan langsung antara 4 pertanyaan tsb dg kurikulum pendidikan?
Mohon contohnya, spy bs lebih mudah dipahami? Karena perlu pemikiran yang mendalam buat menjawab 4 pertanyaan dlm membuat misi pernikahan. Wajib berkontemplasi dan brainstorming lagi dan lagi 😄
*Jawab: Dengan 4 pertanyaan diatas, Bu Septi sedang meminta kita, para ibu utk menggali kembali Strength pada diri kita, suami, anak & lingkungan kita.
Sebab boleh jadi kita lupa semua itu, karena mereka terlalu dekat dgn kita atau krn kita terlalu sibuk dgn rutinitas.
Atau kita memandang terlalu tinggi pada kelebihan orang2 yg ada diluar diri kita, suami kita, anak2 kita & lingkungan kita.
Sikap seperti itu negatif jika membuat kita lemah, pasif, baper.
Jadi kurikulum pendidikan keluarga dibangun berdasarkan himpunan semua kekuatan itu.
Kurrikulum pendidikan keluarga secara umum mensinergikan kelebihan masing2 individu.
Contoh: seorang ibu yg menikahi suaminya krn suaminya dulu dia pandang lebih mengerti agama dari dirinya & suka mengajar, maka istrinya harus bisa menempatkan diri benar2 mendukung suami agar bisa mengabdikan potensinya itu utk umat.
Akar dari kurikulum pendidikan keluarga inilah yang akan menjadi misi pernikahan.
Yaitu menikah utk memberikan kemanfaatan, sumbangsih & wujud rasa syukur atas kehidupan yg dikaruniakan Allah kpd kita, serta menjaga n melindungi diri kita n keluarga dari siksa api neraka.

👨‍👩‍👦‍👦 *MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*👨‍👩‍👧‍👧
“ _Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya_ ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ _misi spesifiknya_ ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ _peran spesifik keluarga_” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?
🙋 *PRA NIKAH*
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
*ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK*
👨‍👩‍👧‍👧 *NIKAH*
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ _misi pernikahan_” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
👩‍👧‍👧 *ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)*
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
*IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD*
_Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak_
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.
Karena
*_Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang_*
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, _anda akan membuktikan bahwa antara *pekerjaan*, *berkarya* dan *mendidik anak*, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan_
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_SUMBER BACAAN_
_Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015_
_Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016_